Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

profil melly goeslaw

Melly Goeslaw

Melly Goeslaw
Latar belakang
Dilahirkan dengan nama Meliana Cessy Goeslaw
Lahir 7 Januari 1974 (umur 37)
Genre Pop
Pekerjaan penyanyi
Tahun aktif 1988-sekarang
Label Aquarius Musikindo

Mellyana Goeslaw Hoed, lebih akrab dengan panggilan panggung (Melly Goeslaw)adalah seorang penyanyi dari bandung dan penulis lagu berkebangsaan Indonesia yang banyak digandrungi oleh penyanyi-penyanyi lainnya, Putri tunggal dari pasangan Ersi Sukaesih dan (Alm) Melky Goeslaw serta istri dari Anto Hoed ini telah sukses menciptakan banyak lagu, diantaranya lagu berjudul "Jika" di mana Melly Goeslaw berduet bersama Ari Lasso, kemudian disusul dengan kesuksesannya menciptakan lagu “Menghitung Hari” yang dibawakan oleh Krisdayanti serta lagu “Hati Yang Terpilih” yang dibawakan oleh Rossa, dan langsung mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Selain itu bersama suaminya dia mendirikan grup mussik Potret. Melly menganut agama Islam setelah bernikah dengan Anto pada tahun 1995 silam. Kini mereka dikaruniai dua orang anak lelaki. Anak pertama mereka Anakku Lelaki Hoed (Ale) lahir pada 22 Agustus 2000, disusul anak kedua mereka Pria Bernama Hoed (Abe) yang lahir 9 Mei 2003. Selain telah mengorbitkan banyak penyanyi Melly Goeslaw adalah seorang komposer yang sangat hebat, dia mampu menciptakan lagu - lagu yang tidak kalah hebat, seperti dialbum solonya yang pertama "melly" , Melly mengajak Ari Lasso untuk berduet dengannya, dan lagu tersebut berjudul "Jika", lagu itu sukses dipasaran. Dan setelah 3 tahun fakum dihiburan musik tanah air, Melly Goeslaw mendapat tawaran soundtrack dengan didampingi suaminya, Anto Hoed. Soundtrack pertamanya "Ada Apa Dengan Cinta" yang sudah mendapat sukses besar di Indonesia, dan soundtracknyapun juga terkenal di berbagai negara salah satunya Malaysia, seperti lagu "Ku Bahagia", "Bimbang", "Ada Apa Dengan Cinta ?", Dll,. Setelah kesuksesannya yang besar, Melly Goeslaw mendapat soundtrack lagi yang tidak kalah suksesnya, "Eiffel ... I'm In Love", Melly Goeslaw mampu mengimbangi soundtrack dengan filmnya dengan lagu hits seperti "Pujaanku", "Tak Tahan Lagi", Dll,. Dan setelah 5 tahun tidak membuat album solo (2004), Melly Goeslaw mengeluarkan album solonya yang ke-2 yaitu berjudul "Intuisi", bukan Melly Goeslaw namanya kalau tak ada soundtrack, dialbum itu ada 3 lagu yang dijadikan soundtrack dan single dari album itu juga, seperti "Tentang Dia", "Cinta", dan "Biarkan saja ini mengalir". Belum lama merilis album solonya yang ke-2, Melly mendapat soundtrack lagi, yang berjudul "Apa Artinya Cinta ?", di soundtrack ini Melly mengajak teman duet lamanya yaitu Ari lasso untuk menjadi teman soundtrack dalam single yang pertama yaitu lagu yang berjudul "Apa Artinya Cinta ?". Dan single keduanya juga tak kalah sukses dengan single pertamanya yaitu "I'm Fallin' In Love". Ditahun berikutnya Melly Goslaw mendapat soundtrack lagi, yaitu film yang sangat fenomenal, "My Heart". Tapi sayangnya Melly Goeslaw tidak ikut bernyanyi, Melly Goeslaw Dan Anto Hoed hanya menjadi konmposer/Pencipta semua lagu yang ada didalamnya, dan singlenya sangat sukses dipasaran yang berjudul "My Heart". Ditahun berikutnya Melly Goeslaw membuat album solonya yang Ke-3 yaitu berjudul "Mindnsoul", dan merupakan album kumpulan lagu - lagu Melly dialbum sebelumnya, dan album ini mengeluarkan 3 lagu baru dan 3 single yang sukses dipasaran seperti lagu "Let's Dance Together" , "Gantung" , dan "Risau". Tak lama kemudian Melly Goeslaw dan suaminya mendapatkan soundtrack yang berjudul "The Butterfly", singlenya sukses namun sayangnya Melly Goeslaw hanya mengeluarkan satu single saja yaitu, "Butterfly". 1 tahun tanpa soundtrack Melly Goelaw mendapatkan soundtrack lagi yang berjudul "Ketika Cinta Bertasbih", film itu sangat fenomenal dan Melly mengeluarkan single "Ketika Cinta Bertasbih", "Tuhan Beri aku Cinta" dinyanyikan oleh Ayushita, Dan "Menanti Cinta" dinyanyikan oleh Krisdayanti. Ditahun berikutnya Melly Goeslaw mendapatkan 3 Soundtrack sekaligus yaitu "Heart 2 Heart", "Kabayan Jadi Milyuner", Dan "Love Story".


sumber: google.com

profil rossa

Rossa
Sri Rossa Roslaina Handiyani
Perempuan
Islam
Sumedang, Jawa Barat, 09 Oktober 1978


Biografi :

Rossa memiliki nama lengkap Sri Rossa Roslaina Handiyani, lahir di Sumedang, Jawa Barat, 9 Oktober 1978. Ia merupakan penyanyi beraliran pop yang kini menjadi istri Yoyo, salah seorang anggota grup band Padi.

Darah Rossa sebagai penyanyi mengalir dari ibunya, Eni Kusmiani, yang mantan penyanyi Cianjuran dan ayahnya seorang wiraswasta, Ukas Hasan Irawan. Ia sendiri anak pertama dari tiga bersaudara, Iwan dan Hendra.

Debut album Rossa berjudul UNTUK SAHABATKU, dirillis 1988, berisi lagu anak-anak yang musiknya dikerjakan Franky Sahilatua, James F Sundah, Uce F Tekol, Areng Widodo dan Alex Lia.

Berikutnya ibu dari Rizky Langit Ramadhan itu merilis album kedua berjudul NADA NADA CINTA (1996), yang memperoleh sambutan luas dari pengemarnya. Semakin populer saat Rossa merilis album TEGAR (2000), di mana lagu tersebut juga menjadi theme-song sinetron arahan Putu Wijaya, SUAMI, ISTRI DAN DIA yang ditayangkan di stasiun TV, RCTI.

Penyanyi yang meraih gelar sarjana dari jurusan FISIP Universitas Indonesia pada Februari 2002 itu, kemudian merilis album HATI YANG TERPILIH (2000), lalu album KINI (2002) dan KEMBALI (2004). Terakhirnya Rossa merilis YANG TERPILIH, album berisi kumpulan lagu-lagunya yang dinyanyikan ulang. Bahkan album ini juga dirilis di Malaysia pada Mei 2007.

Kesuksesan karir solo Rossa membuat ia dipercaya untuk membawakan soundtrack film religi, AYAT-AYAT CINTA. Dibantu oleh artis Melly Goeslaw, Rossa merilis album OST AYAT-AYAT CINTA pada 2008.

Impian terbesar Rossa adalah menggelar konser tunggal yang akhirnya tercapai pada 26 November 2008. Konser tunggal yang bertajuk Persembahan Cinta ini dibantu oleh komposer kenamaan, Erwin Gutawa dan Jay Subiakto diadakan di Jakarta Convention Center (JCC).

Meski sedang dirundung masalah rumah tangga, Rossa seperti tak terpengaruh. Ia malah meluncurkan album kelimanya, ROSSA (2009) dengan lagu andalan Terlanjur Cinta yang diciptakan oleh suaminya, Yoyo. Lagu ini dinyanyikan secara duet bersama Pasha Ungu.

Setelah lama bungkam perihal isu rumah tangganya, akhirnya Rossa membuka diri. Ia mengatakan bahwa ia dan Yoyo telah sepakat untuk pisah rumah. Namun Yoyo bisa datang kapan pun ia mau untuk menjenguk anak mereka.

Meski pisah rumah, bukan berarti Rossa tengah terpuruk. Namun, ia malah menunjukkan ketegarannya sebagai wanita. Demi promosi albumnya, Rossa melakukan tur di tujuh kota yang bertajuk Cerita Cinta Rossa di tiap akhir minggu.

Kisruh rumah tangga yang dialami oleh Rossa sepertinya akan berakhir dengan perceraian. Pada 22 Juni 2009, Rossa mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya, Yoyo. Sidang pertama dilaksanakan pada 30 Juni 2009 dan pada 14 Juli 2009, pasangan ini resmi bercerai.

Selepas bercerai, Rossa semakin konsentrasi berkarir dan membesarkan anaknya. Ia pun kembali melepas single teranyarnya, Tega dari album ROSSA.


sumber: google.com

Jumat, 18 Februari 2011

profil kota balikpapan

Sejarah Asal-usul Nama Kota Balikpapan


Nama Balikpapan kurang jelas kapan berasal dan apa makna nama itu. Menilik susunan katanya dapat dimasukkan ke dalam asal kata bahasa Melayu. Menurut buku karya F. Valenijn pada tahun 1724, menyebut suatu daerah di hulu sebuah sungai di sebuah Teluk sekitar tiga mil dari pantai, desa itu bernama BILIPAPAN. Lepas dari persoalan ucapan maupun pendengaran, jelas bahwa nama tersebut dikaitkan dengan sebuah komunitas pedesaan di teluk yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Balikpapan.

Terdapat beberapa versi terkait dengan asal-usul nama Balikpapan :

1. Versi Pertama ( Sumber : Buku 90 Tahun Kota Balikpapan yang mengutip buku karya F. Valenijn tahun 1724 )

Menurut legenda asal nama Balikpapan adalah akrena sebuah kejadian yang terjadi pada tahun 1739, sewaktu dibawah Pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai, yang memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai lama. Sumbangan tersebut ditentukan berupa penyerahan sebanyak 1000 lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama melalui sepanjang pantai. Setibanya di Kutai lama, ternyata ada 10 keping papan yang kurang (terlepas selama dalam perjalanan) dan hasil dari pencarian menemukan bahwa 10 keping papan tersebut terhanyut dan timbul disuatu tempat yang sekarang bernama "Jenebora". Dari peristiwa inilah nama Balikpapan itu diberikan (dalam istilah bahasa Kutai "Baliklah - papan itu" atau papan yang kembali yang tidak mau ikut disumbangkan).


2. Versi Kedua ( Sumber : Legenda rakyat yang dimuat dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan )

Menurut legenda dari orang-orang suku Pasir Balik atau lazim disebut Suku Pasir Kuleng, maka secara turun menurun telah dihikayatkan tentang asal mula nama "Negeri Balikpapan". Orang-orang suku Pasir Balik yang bermukim di sepanjang pantai teluk Balikpapan adalah berasal dari keturunan kakek dan nenek yang bernama " KAYUN KULENG dan PAPAN AYUN ". Oleh keturunannya kampung nelayan yang terletak di Teluk Balikpapan itu diberi nama "KULENG - PAPAN" atau artinya "BALIK - PAPAN" (Dalam bahasa Pasir, Kuleng artinya Balik dan Papan artinya Papan) dan diperkirakan nama negeri Balikpapan itu adalah sekitar tahun 1527.

Hari Jadi Kota Balikpapan


Hari jadi Kota Balikpapan ditentukan pada tanggal 10 Februari 1897. Penetapan tanggal ini merupakan seminar sejarah Kota Balikpapan tanggal 1 Desember 1984. Tanggal 10 Februari 1897 ini adalah tanggal Pengeboran pertama minyak di Balikpapan yang dilakukan Perusahaan Mathilda sebagai dari pasal-pasal kerjasama antara J.H Menten dengan Mr. Adam dari Firma Samuel dan CO.

Nilai Budaya Kota Balikpapan


Kota Balikpapan berawal sejak ditenukannya sumur minyak oleh Matilda pada tanggal 10 Februari 1897. Sejak saat itulah Kota Balikpapan diminati oleh masyarakat luar karena terkenal sebagai kota minyak. Berbagai suku di Indonesia khususnya Kalimantan sendiri, Sulwesi dan Jawa datang untuk mencari nafkah di Balikpapan.


Perkembangan Kota Balikpapan semakin pesat, masyarakat Kota Balikpapan secara langsung terjadi akulturasi berbagai budaya, berbagai suku di Indonesia, ini bisa tercermin dari bahasa pengantar yang digunakan warga Balikpapan adalah yaitu bahasa Indonesia baik sekolah, rumah, tempat kerja dan lain-lain.


Pada kurun waktu yang bersamaan keagamaan atnis yang datang diikuti pula dengan berbagai adat istiadat dan agama. Adat istiadat dari berbagai ertnis sangat terbina dengan baik, demikian pula penganut agama yang dipeluknya. Hal ini didukung oleh adanya faktor akulturasi budaya, sehingga hubungan masyarakat terjalin harmonis secara turun temurun. Yang menjadi khas Kota Balikpapan adalah tidak terdapat dominasi salah satu suku, baik dari suku asli Kalimantan maupun suku pendatang, sehingga perekat bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.


Sebagai wujud implementasi dalam rangka memelihara, menjaga dan meningkatkan integritas, kondusif Kota Balikpapan, sesuai motto Balikpapan Kubangun, Kujaga dan Kubela.


Balikpapan sebagai kota yang strategis dan kondusif, sangat didukung oleh masyaraat, terutama dalam keramahan dan kebersamaaan warga kota dalam keragaman suku / etnis, budaya, nilai kekerabatan antar suku sangat kental, sebagai modal utama mengantarkan Balikpapan sebagai masyarakat yang madani, yang memiliki masyarakat majemuk yang hidup rukun, harmonis, berperadaban modern, maju serta mamiliki nilai-nilai moralitas spiritual, agama dan kepercayaan masing-masing.


Nilai guyub / kebersamaan yang tinggi mampu mengikat rasa persaudaraan antar suku, menjadikan pondasi terbangunnya kondisi terus terjaga, menjadikan Kota Balikpapan sebagai Kota Bersih, Indah, Aman dan Nyaman.


Budaya bersih dan wawasan lingkungan, juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan pada umumnya telah menjadi ciri masyarakat Balikpapan, terakomodir secara profesional dalam program Pemerintah Kota Balikpapan, yakni : CLEAN, GREEN and HEALTHY (Bersih, Hijau dan Sehat)

Arti Gambar dan Lambang Daerah Kota Balikpapan

No
Detail Arti / Keterangan
1
Bentuk Lambang
Perisai
2
Perbandingan Ukuran
3 : 4
3
Perisai
Pelindung dalam perjuangan mencapai cita-cita revolusi Indonesia
4
Warna Hijau Daun
Kemakmuran
5
Warna Putih
Kesucian
6
Warna Merah
Keberanian
7
Warna Kuning Emas
Keluhuran
8
Warna Biru Muda
Ketentraman
9
Manuntung
Tabah Sampai Akhir
10
Bintang Segi Lima
Pancasila
11
Tangga, Padi, Kapas, Roda dan Kilang
Sumber Inspirasi dan Aspirasi Untuk Membangun
12
Dua Buah Layar
Pintu Gerbang Kalimantan Timur
13
Perahu dengan Dua Buah Lengkungan Layar Bagian Bawah
Latar Belakang Geografis
14
Telabang
Pertahanan dan Kebudayaan
15
Kilang dan Teluk di bawah Lekukan Layar
Mengesankan Ciri Khas Kota Balikpapan
16
Bunga Dan Daun Kapas
Berjumlah 21
Tanggal 21-01-1960 merupakan tanggal permulaan berdirinya Pemerintahan Kotamadya Balikpapan.
17
Telabang
Berjumlah 1
18
Butir Padi
Berjumlah 60
* Lampiran Peraturan Daerah Kotamadya Balikpapan No.01 /P.D./19 - 70 Tanggal 19 Januari 1970 tentang Lambang Daerah Kotamadya Balikpapan

Visi Kota Balikpapan

Terwujudnya Balikpapan sebagai kota industri, perdagangan, jasa dan pariwisata yang didukung oleh penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (Good Governance) dan masyarakat yang beriman, sejahtera, religius dan berperadapan maju (Madinatul Iman)

Misi Kota Balikpapan

  • Mewujudkan sumber daya manusia yang beriman, sehat jasmani dan memiliki daya saing dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Meujudkan tersedianya infrastruktur kota yang mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan fungsi kota di masa depan.
  • Mewujudkan kondisi kota yang layak huni dan berwawasan lingkungan.
  • Mewujudkan perekonomian kota yang berorientasi kepada pengembangan potensi ekonomi kerakyatan dan pengembangan basis ekonomi kota di masa depan.
  • Mewujudkan penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (Good Governance)
  • Mewujudkan penegakan hukum yang menjamin keadilan dan kepastian hukum bagi masyarakat.


    Nama-nama Walikota Balikpapan

    1. H.A.R.S.MUHAMMAD ( 1960 - 1963 )

    2. MAYOR TNI. AD BAMBANG SOETIKNO ( 1963 - 1965 )

    3. MAYOR TNI.AD IMAT SAILI ( 1965 - 1967 )

    4. MAYOR POL.ZAINAL ARIFIN ( 1967 - 1973 )

    5. LETKOL.POL.H.M.ASNAWI ARBAIN ( 1974 - 1981 )

    6. KOL.CZI.TNI.AD.SYARIFUDIN YOES ( 1981 - 1989 )

    7. H. HERMAIN OKOL (Sebagai Plt.Walikota) ( 1989 - 1991 )

    8. KOL.INF.H.TJUTJUP SUPARNA ( 1991 - Juni 2001)

    9. H. IMDAAD HAMID ( Juni 2001 - Sampai Dengan Sekarang )

  • kota samarinda

    Data Umum Kota Samarinda

    Sejarah Kota Samarinda

    Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaya, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Poa Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

    Samarinda dulu kala

    Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh. Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang).

    Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda.

    Samarinda Jaman Baheula

    Orang-orang Bugis Wajo ini bermukim di Samarinda pada permulaan tahun 1668 atau tepatnya pada bulan Januari 1668 yang dijadikan patokan untuk menetapkan hari jadi kota Samarinda. Telah ditetapkan pada peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya'ban 1078 H penetapan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan hari jadi kota Samarinda ke 320 pada tanggal 21 Januari 1988.

    Logo Samarinda

    Pembentukan Pemerintah Kota Samarinda didasarkan pada UU Nomor 27 tahun 1959. berdasarkan PP 21 tahun 1987 kota Samarinda terbagi menjadi 4 (empat) kecamatan dan tahun 1997 dimekarkan menjadi 6 kecamatan dan tahun 1997 dimekarkan menjadi 6 kecamatan dan 42 kelurahan. Berdasarkan Perda kota Samarinda nomor 01 tahun 2006 tentang pembentukan kelurahan dalam wilayah kota Samarinda dan berdasarkan peraturan walikota Samarinda Nomor 10 tahun 2006 tentang penetapan 11 kelurahan baru hasil dari pemecahan/pemekaran dalam wilayah kota Samarinda, dengan demikian berdasarkan pasal 3 peraturan walikota nomor: 10 tahun 2006 jumlah kelurahan dalam wilayah kota Samarinda setelah pemekaran menjadi 53 kelurahan. Dan sampai saat ini kota Samarinda telah dipimpin oleh beberapa orang walikota dan wakil walikota.

    Letak Geografis

    Kota Samarinda mencakup wilayah seluas 71.800 Ha atau 718 Km2. Kota Samarinda secara astronomis terletak pada posisi antara 117°03'00" - 117°18'14" Bujur Timur dan 00°19'02" - 00°42'34" Lintang Selatan.

    Batas Wilayah Administrasi

    Kota Samarinda secara administratif memiliki 6 kecamatan yakni Kecamatan Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, Sungai Kunjang, Samarinda Ulu dan Samarinda Utara, serta terdiri atas 53 kelurahan. Batas wilayah Kota Samarinda adalah:

    • Sebelah Utara: Kec. Muara Badak Kabupaten Kukar
    • Sebelah Timur: Kecamatan Anggana dan Sanga-Sanga (Kab Kukar)
    • Sebelah Selatan: Kec Loa Janan .Kab Kutai Kartenegara
    • Sebelah Barat: Kec. Muara Badak Tenggarong Seberang (Kab Kukar)
    Sungai Mahakam

    Topografi

    Topografi

    Ketinggian Kota Samarinda berada di antara 0-200 m dpl (di atas permukaan laut). Sebesar 294.86 Km2 wilayah Kota Samarinda berada pada ketinggian 7-25 m dpl dengan persentase sebesar 41.07 % dari seluruh wilayah Kota Samarinda. Hampir 32.45 % berada pada ketinggian 25-100 m dpl, dan sebesar 24.15 % pada ketinggian 0-7 m dpl.

    Kemiringan

    Berdasarkan kemiringan, maka wilayah Kota Samarinda terbagi dalam:

    Luas Kota Samarinda Menurut Kemiringan
    No Kemiringan (%) Luas (KM2) Persentase (%)

    Total 718.00 100.00
    1 0-2 259,87 36,19
    2 3-14 182,75 25,45
    3 15-39 178,60 24,87
    4 40-59 72,05 10,04
    5 > 60 24,73 3,44

    Wilayah Kota Samarinda secara keseluruhan berada pada kemiringan 0-60 %, walaupun ada beberapa wilayah yang berada pada kemiringan di atas 60 %. Kemiringan wilayah Kota Samarinda mayoritas berada pada 0-2 % dengan persentase 36.19 % seluas 259.87 Km2. Sebesar 182.75 Km2 berada pada kemiringan 3-14 % dan beberapa wilayah seluas 24.73 Km2 berada pada kemiringan di atas 60 %.

    Fisiografi

    Fisiografi menunjukkan bentuk permukaan bumi dipandang dari faktor dan proses pembentukannya. Proses pembentukan permukaan bumi dipandang sebagai penciri suatu satuan fisiografi.

    Pengurukan Tanah

    Pembagian bentuk permukaan bumi berdasarkan tipe fisiografinya dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan memudahkan dalam perencanaan penggunaan tanah sehubungan dengan perencanaan pengembangan daerah.

    Ditinjau dari fisiografinya, wilayah Kota Samarinda dapat dikelompokkan dalam 7 (tujuh) deskripsi masing-masing satuan fisiografi tersebut adalah sebagai berikut :

    • Daerah patahan yakni patahan menurun dan kasar, dengan permukaan yang besar dengan kemiringan tanah sangat bervariasi. Daerah patahan di Kota Samarinda seluas 295.26 Km2 dengan persentase 41.12 %, merupakan daerah terluas di Kota Samarinda.
    • Daerah rawa pasang surut (tidal swamp) yaitu daerah dataran rendah di tepi pantai yang selalu dipengaruhi pasang surut air laut dan ditumbuhi hutan mangrove dan nipah, bentuk wilayah datar dengan variasi lereng kurang dari 2 % dan perbedaan tinggi kurang dari 2 meter.
    • Daerah dataran alluvial (alluvial plain) yaitu daerah dataran yang terbentuk dengan proses pengendapan, baik di daerah muara maupun daerah pedalaman. Kota Samarinda memiliki daerah alluvial seluas 94.79 Km2 atau 13.20 % dari luas Kota Samarinda.
    • Daerah berombak/bergelombang yakni daerah dengan konfigurasi medan berat ditandai dengan penyebaran daerah perbukitan 8.15 %. Daerah berombak di Kota Samarinda seluas 96.36 Km2, sedangkan daerah bergelombang seluas 15.27 Km2.
    • Daerah dataran (plain) yaitu daerah endapan, dataran karst, dataran vulkanik, dataran batuan beku (metamorf) masam, dataran basalt dengan bentuk wilayah bergelombang sampai berbukit, variasi lereng 2 sampai 15.94 % dengan beda ketinggian kurang dari 50 meter. Kota Samarinda memiliki daerah dataran yang cukup luas setelah daerah patahan, yaitu seluas 105.24 Km2 atau sebesar 14.66 %
    • Daerah berbukit (hill) yaitu daerah bukit endapan dan ultra basa, system punggung sedimen, metamorf dan kerucut vulkanik yang terpotong dengan pola drainase radial. Bentuk wilayah bergelombang sampai agak bergunung, variasi lereng 16 sampai 60 %, dengan beda ketinggian antara 50 sampai 150 meter. Daerah berbukit merupakan daerah yang paling jarang ditemui di Kota Samarinda karena hanya seluas 6.34 Km2 atau sebesar 0.88 % dari wilayah Kota Samarinda.
    • Daerah sungai (river). Daerah ini berfungsi sebagai daerah reterdam, daerah pengendali atau waterponds.
    Pengerukan Tanah Sungai

    Tujuh satuan fisiografi yang terdapat di Kota Samarinda disajikan dalam diagram berikut :

    Sungai

    Geologi

    Struktur geologi di wilayah Kota Samarinda diketahui berdasarkan hasil survey dan atau pemetaan geologi yang dimuat dalam buku "Geology of Indonesia, Volume IA". Oleh R.W. Van Bemmelen, 1949, pada umumnya berumur Praktertier hingga Kwarter.

    Beberapa formasi geologi yang terdapat diwilayah Kota Samarinda diantaranya adalah

    Luas masing-masing Formasi Geologi di Wilayah Kota Samarinda.
    No Formasi Luas (KM2) %

    Jumlah 718.00 100
    1 Kampung Baru Beds 113.14 15.76
    2 Balikpapan Beds 339.53 47,29
    3 Pulau Balang Beds 169.77 23.64
    4 Pemaluan Beds 95.56 13.31

    Hidrologi

    Sungai

    Berdasarkan kondisi hidrologinya Kota Samarinda dipengaruhi oleh sekitar 20 daerah aliran sungai (DAS). Sungai Mahakam adalah sungai utama yang membelah Kota Samarinda dengan lebar antara 300 - 500 meter, sungai - sungai lainnya adalah anak-anak sungai yang bermuara di Sungai Mahakam yang meliputi :

    • Sungai Karang Mumus dengan luas DAS sekitar 218,60Km2
    • Sungai Palaran dengan luas DAS 67,68 Km2
    • Anak sungai lainnya antara lin , Sungai Loa Bakung, Lao Bahu, Bayur, Betepung, Muang, Pampang, Kerbau, Sambutan, Lais, Tas, Anggana, Loa Janan, Handil Bhakti, Loa Hui, Rapak Dalam, Mangkupalas, Bukuan, Ginggang, Pulung, Payau, Balik Buaya, Banyiur, Sakatiga, dan Sungai Bantuas.

    Jenis Tanah

    Sawah

    Sesuai dengan kondisi iklim di Kota Samarinda yang tergolong dalam tipe iklim tropika humida, maka jenis-jenis tanah yang terdapat di daerah inipun tergolong ke dalam tanah yang bereaksi masam.

    Jenis-jenis tanah yang terdapat di Kota Samarinda, menurut Soil Taxanomy USDA tergolong kedalam jenis tanah: Ultisol, Entisol, Histosol, Inceptiols dan Mollisol atau bila menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor terdiri dari jenis tanah: Podsolik, Alluvial, Organosol.

    Ciri dan sifat tanah-tanah Podsolik (Ultisol) biasanya ditandai dengan:

    • Pencucian yang intensif terhadap basa-basa, sehingga tanah bereaksi masam dan dengan kejenuhan basa yang rendah.
    • Karena suhu yang cukup tinggi dan pencucian yang berlangsung terus menerus mengakibatkan pelapukan terhadap mineral liat sekunder dan oksida-oksidanya.
    • Terjadi pencucian liat di lapisan atas (eluviasi) dan penimbunan liat di lapisan bawahnya (illuviasi).

    Tanah Podsolik (Ultisol) merupakan jenis tanah yang arealnya terluas di Kota Samarinda dan masih tersedia untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian. Persediaan air di daerah ini umumnya cukup tersedia dari curah hujan yang tinggi. Penggunaan tanah dari jenis tanah ini sebagai daerah pertanian, biasanya memungkinkan produksi yang baik pada beberapa tahun pertama selama unsur-unsur hara dipermukaan belum habis melalui proses biocycle.

    Pada dasarnya jenis-jenis tanah di Kota Samarinda (menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor dan Padanannya menurut Soil Taxanomy) terdiri dari:

    Jenis Tanah di Samarinda

    Penggunaan Tanah

    Pola penggunaan tanah di Kota Samarinda mengikuti pola penyebaran penduduk yang ada. Akumulasi penduduk sebagai besar terdapat pada lokasi-lokasi yang dikembangkan oleh Pemerintah seperti: Pusat Perdagangan, Pusat Industri dan lokasi Transmigrasi dimana daerah-daerah tersebut sudah mempunyai transportasi yang memadai.

    Penggunaan Tanah di Kota Samarinda yang paling luas adalah lahan bukan sawah sebesar 39.338 ha atau 54.79 % dari luas Kota Samarinda, diikuti rumah bangunan dan halaman sekitar sebesar 22.896 ha atau 31.89 %.

    Untuk mengetahui penggunaan lahan lebih jelasnya pada tabel berikut:

    Perkembangan Luas dan Jenis Penggunaan Lahan Kota Samarinda Tahun 2007-2009
    No Penggunaan Tanah Luas(Ha)
    2007 2008 2009

    Jumlah 71.800 71.800 71.800
    I Lahan Pertanian 37,985 34,659 35,242

    1.1 Lahan Sawah 8,753 8,089 8,021

    A. Irigasi Teknis - - -

    B. Irigasi Setengah Teknis 511 611 438

    C. Irigasi Sederhana 1,120 640 184

    D. Irigasi Desa / non PU 175 64 108

    E. Tadah Hujan 337 2,511 2,049

    F. Pasang Surut 35 - -

    G. Lebak - - -

    H. Lainnya (Polder, Rembesan, dll) - - 1,465

    I. Tidak ditanami Padi 2,467 2,771 -

    J. Sementara tidak Diusahakan 4,108 1,492 3,777

    1.2 Lahan Bukan Sawah 29,232 26,570 27,221

    A. Tegal / Kebun 5,524 4,411 4,238

    B. Ladang / Huma 3,120 2,220 2,539

    C. Perkebunan 4,641 6,603 6,592

    D. Ditanami Pohon atau Hutan Rakyat 2,366 1,980 6,744

    E. Tambak 18 18 18

    F. Kolam / Tebat / Empang 79 79 93

    G. Penggembalaan / Padang Rumput 79 79 93

    H. Sementara Tidak Diusahakan 11,973 9,558 3,845

    I. Lainnya (Pekarangan yang ditanami tanaman pertanian, dll) 1,061 1,269 2,737
    II Lahan Bukan Pertanian 33,815 37,141 36,558

    2.1 Rumah Bangunan dan Halaman Sekitarnya 26,050 27,234 24,502

    2.2 Hutan Negara - 975 975

    2.3 Rawa-rawa tidak ditanami 357 432 365

    2.4 Lainnya (Jalan, Sungai, Danau, Lahan Tandus, dll) 7,408 8,500 10,716

    Penggunaan tanah di Kota Samarinda yang paling luas adalah lahan bukan sawah sebesar 393.38 Km2 atau 54.79 % dari luas Kota Samarinda, sedangkan rumah bangunan & halaman sekitar sebesar 228.96 Km2 atau 31.89 %.


    sumber: google.com

    second civil

    Profil dan Biodata Second Civil

    Second Civil adalah grup band asal Cirebon yang berhasil menjadi juara pertama A Mild Live Wanted 2007 untuk regional Jawa Barat. Penobatan grup band yang sebelumnya menjabat sebagai juara kedua ini terkait dengan mundurnya band asal Sukabumi, Vagetoz. Sebelum ikutan A Mild Live Wanted, SECOND CIVIL sudah membuat dua album indie yang mendapat animo positif di Cirebon ini bisa dibuktikan dari hasil penjualan yang mencapai 5000 copy hanya untuk wilayah Cirebon.

    Image Profil dan Biodata Second Civil

    PERSONEL :

    Nama : Ardhi Pardiansyah
    Posisi : Vokal

    Nama : M. Andi Yudistira
    Posisi : Lead gitar

    Nama : M. Sesar
    Posisi : Bass

    Nama : Fante Ferdiyan
    Posisi : Keyboard

    Nama : Daniar
    Posisi : Drum

    Sumber : music.detikhot.com

     
    Blogger Templates by Wishafriend.com